Setelah 4 Tahun Dipenjara Rezim As-Sisi, Mursi Tegaskan Tidak Ada Perdamaian Dengan Rezim Kudeta


CAIRO - Presiden sah Mesir Muhammad Mursi yang dikudeta oleh As-Sisi pada 3 Juli 2013 dan dijebloskan dalam penjara, akhirnya bisa ditemui oleh keluarganya. 

Setelah 4 tahun disekap oleh rezim As-Sisi akhirnya kemarin (Ahad, 4 Juni 2017) istri dan anak beserta pengacara diizinkan menemui Mursi.

Alhamdulillah kesehatan Mursi dikabarkan cukup baik, dan beliau tegaskan istiqomah dengan cita-cita Revolusi Rakyat Mesir 25 Januari.

Mursi mengatakan tidak ada perdamaian dengan rezim kudeta, kalau ada yang bilang damai mengatasnamakan Mursi itu bohong. Dia menghimbau rakyat Mesir untuk terus melakukan perlawanan denga damai dan bertahan dengan cita-cita revolusi 25 Januari.

Pertemuan pertama dengan Mursi tadi membuka banyak hal, terutama agenda Penentang Kudeta di Mesir ke depan.

Sejak Mursi ditahan dan dilarang bertemu siapa pun banyak issue liar (HOAX) yang disebar, termasuk kemungkinan IM "berdamai" dengan rezim kudeta.

Salah satu sebab susahnya penentang kudeta untuk solid adalah issue liar yang disengaja disebar dan mengatasnamakan presiden Mursi.



Termasuk perbedaan pendapat di barisan IM dalam merespon rezim kudeta yang semakin represif. Kondisi ini sengaja diciptakan.

Sampai hari ini Mursi masih sebagai panglima tertinggi revolusi Januari. Seandainya dia menyerah maka revolusi kandas.

Info yang didapat dari Mursi tadi mengonfirmasi bahwa issue yang selama ini beredar termasuk oleh beberapa Qiyadah IM bohong.

Mursi tegaskan bahwa revolusi terus berlanjut dan tidak ada yang berwenang menghentikan apalagi dengan mengatasnamakan dirinya.

Ujian yang dihadapi IM di Mesir maha berat memang, tapi itu konsekuensi sebagai organisasi induk dakwah. Mereka kuat dan istiqomah.

(@hasmi_bakhtiar)

***

Muhammad Mursi memenangkan Pilpres pertama paling demokrtais di Mesir pada 24 Juni 2012 pasca Revolusi Mesir yang digalang sejak 25 Januari 2011. Mursi adalah Ketua Umum FJP (Partai IM) yang juga menang dalam Pileg yang digelar sebelumnya.
Muslimah, Hijab, dan Prestasi

Muslimah, Hijab, dan Prestasi

Lupakan aja soal remaja yang katanya cerdas dan bernas cara berpikirnya. Sehingga banyak orang terpesona dengan rangkaian kata dan kalimatnya yang luar biasa untuk anak SMA. Itu lho, yang nulis kalo agama itu warisan. Muter-muter gunakan kata dan kalimat menarik, ujung-ujungnya nulis kalo semua agama itu sama. Ih, nggak sama atuh! Cuma Islam yang benar.

Hehehe… Tapi sori lah, kalo yang disampaikan itu sampah, meski dikemas sebaik mungkin tetap saja sampah. Mereka yang menganggapnya bagus, berarti cara berpikirnya sama dengan isi tulisan tersebut. Ya iyalah mana mungkin orang beriman (termasuk remaja yang beriman) dengan benar dan baik menulis seperti itu atau memuji-muji isi tulisan tersebut. Betul nggak?

Eh, tapi saya nggak bakalan bahas tentang si dia itu, tapi mau bahas yang bermanfaat aja. Insya Allah. Apa itu? Ini dia!

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati pasti udah pada tahu sama salah satu ajang kecantikan yang lagi diselenggarain ini, Sunsilk Hijab Hunt. Dari awal diadain sampai sekarang, muslimah yang mengikuti ajang ini makin banyak. Dikutip dari blognya langsung, katanya sih, acara ini bukan sekadar kontes wanita berhijab biasa. Loh, kok bisa?

Well, kriteria penilaiannya itu bukan cuma cantik, tapi berkepribadian dan harus memiliki bakat. Selain itu, tujuan ajang ini juga memacu muslimah yang berhijab supaya bisa mengeksplorasi dan ngegali lagi potensi dirinya. Katanya sih, supaya hijab para muslimah nggak lagi jadi penghalang buat bisa berkarya dan jadi inspirasi.

Sama halnya kayak Sunsilk Hijab Hunt, ajang kecantikan Miss Indonesia juga lagi berlangsung, loh. Pasti kamu juga tahu dong, sama ajang yang satu ini. Ya iyalah, kan disiarin secara langsung di salah satu stasiun tivi swasta Indonesia. Kayaknya nih, ajang Miss Indonesia tuh bergengsiiii… banget.

Soalnya kalo berhasil jadi pemenang bakal dikirim buat ngewakilin Indonesia di ajang Miss World. Belum lagi bakalan jadi duta sosial buat UNICEF. Wuih, wuih, pasti hebat banget, deh, pemenangnya. Hehehe.. sayangnya ukuran hebat ini menurut ukuran hawa nafsu, bukan syariat.

Duh, kayaknya ajang-ajang semacam ini banyak banget, ya? Soalnya lokal tiap daerah aja ada. Contohnya sih, ajang Moka (Mojang-Jajaka) di Jawa Barat dan Abang-None Jakarta itu. Bedanya, tujuan Moka dan Abang-None itu buat mempertahankan kebudayaan yang ada di daerahnya. Walaupun pasti ada ukuran khusus, yakni tampilannya menarik. Ya, sama aja sih jadinya. Ganteng or cantik jadi prioritas, apalagi jika ditambah piter . Kasihan ya, prestasinya diukur dari kriteria begituan.


Selalu ada negatifnya
Emh, bagus-bagus sih, tujuan dari ajang-ajang itu diadakan. Mulai dari bisa jadi inspirasi banyak orang, menjaga kesenian dan kebudayaan daerah, pelopor kegiatan sosial dan sebagainya. Terlebih, ajang semacam ini juga bisa ngajak orang-orang buat berpikir terbuka untuk berkarya dan mengukir prestasi.

Tapi, di balik sisi positif, selalu ada negatifnya. Pada intinya, semua ajang ini mengutakan 3B. Beauty, brain, behavior. Yah, kok cantik dijadiin kriteria penilaian? Cantik kan relatif. Lagian yang namanya perempuan pasti cantik, masa ganteng. Ada-ada aja, deh, kriteria penilaiannya. Belum lagi harus pintar dan berbakat. Berarti kalo ngga punya bakat ngga boleh ikutan, dong? Udah gitu harus satu paket: cantik, pinter, dan berkepribadian. Ck..ck…ck… (nggak kebayang kalo yang pinter dan baik attitude-nya tapi penampilannya nggak menarik. Pasti nggak menang tuh! Atau malah tersisih di audisi awal?)

Sobat gaulislam, coba perhatiin deh, peserta-peserta yang terdaftar. Ada nggak sih yang tetap menjalankan kewajibannya sebagai muslimah? Yang tetap berkerudung dan menutup aurat, nggak berpakaian ketat dan menjaga kehormatannya sebagai muslimah?
Bukannya jadi tempat unjuk bakat, ajang kayak gini malah jadi tempat buat pamer aurat dan menghilangkan kehormatan, juga rendahkan harga diri seorang muslimah.

Kamu pasti udah pada tahu dong, kalo seorang muslimah itu harus menutup aurat. Bukan malah memamerkannya. Contohnya aja ajang Sunsilk Hijab Hunt, walaupun ada embel-embel hijabnya dan semua peserta yang daftar berhijab, tapi kebanyakan dari mereka berpakaian tidak sesuai dengan perintah agama. Begitu juga ajang Putri Indonesia, Moka Jawa Barat dan Abang None Jakarta.

Pake bajunya ada yang ketat, malah ada yang pake celana. Atau pake baju atasan yang panjang tangannya cuman sepertiga aja. Ckckck…. Padahal, kan Islam memerintahkan buat mengulurkan kainnya ke seluruh tubuh, kayak yang dijelasin di al-Quran surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

So, berdasar dari ayat itu, berarti kan seharusnya muslimah memakai baju luar berupa jilbab atau yang biasa disebut gamis. Bukannya malah pake setelan (atasan dan bawahan), pakaian yang nge-press di badan, atau yang tembus pandang. Apalagi malah pake celana panjang! (eits, celana panjang boleh dipake asalkan untuk daleman, luarnya tetap jilbab—yang mirip gamis itu).
Allah subhanahu wa taala udah ngelarang perempuan buat menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan. Celana itu, jadi ciri khas laki-laki, dan sebagai seorang muslimah seharusnya nggak memakai celana panjang sebagai pakaian luar, soalnya bisa menyerupai laki-laki meskipun modelnya itu beda.

Belum lagi kerudung yang dipake para muslimah. Kebanyakan dari peserta ‘memodifikasi’ kerudungnya dengan melilit-lilitkannya kayak punuk unta. Atau diangkat-angkat sampe nggak nutupin dada.

Padahalkan kerudung (atau dalam bahasa Arab disebut khimar) itu fungsinya buat nutupin dada (termasuk punggung), kayak yang dijelasin di al-Quran surat an-Nuur ayat 31 yang artinya: “…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka….”
Nah, dari surat al-Ahzab ayat 59 dan an-Nuur ayat 31 udah jelas banget kalo seorang muslimah sejati itu harusnya pake pakaian yang terulur menutupi tubuh kayak gamis (jilbab), dan pake kerudung yang nutupin dada.

Sobat gaulislam, selain sebagai ajang pamer aurat, kamu percaya gak sih, kalo ajang kayak gini juga bisa menghilangkan kehormatan dan harga diri seorang muslimah? Bagi kamu yang masih nggak percaya, aku jelasin, deh!

Pamer aurat yang dilakuin para peserta itu, berarti kan, memperlihatkan apa yang seharusnya nggak boleh dilihatin ke orang banyak. Hanya dengan hal itu aja, udah menghilangkan kehormatan dan harga diri. Belum lagi, unjuk bakat yang dilakuin peserta seperti menari, berjalan di atas catwalk dan sebagainya, pasti ada aja gerakan yang meliukkan badan. Nah, gerakan ini bisa memancing ketertarikan yang berbahaya bagi lawan jenis dan pastinya merusak kehormatan seorang perempuan.


Sekali dayung, dapet banyak!
Nih, aku kasih tau ya, dalam agama kita tercinta, Islam, ada peraturan-peraturan berupa perintah dari Allah yang harus dipatuhi. Dan selalu ada alasan di balik perintah yang Allah subhanahu wa taala berikan. Alasan itu akan bermanfaat dan berguna buat siapa aja yang menjalankannya. Manfaat yang didapet selain bersifat akhirat kayak nambah pahala, menjauhkan dari siksa neraka dan sebagainya, tapi juga bersifat dunia. Duh, ini mah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!
Hmm… tanpa mengikuti ajang-ajang semacam ini, kamu juga masih bisa, kok, berprestasi dan berkarya. Yang lebih penting, muslimah juga bisa tetap tunduk sama perintah Allah buat ngejaga aurat, pake busana muslimah dan terjaga kehormatan dan harga dirinya tapi tetap berkarya dan berprestasi buat kemashlahatan umat.

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati, ajang-ajang semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya memang memberikan manfaat yang beragam buat diri sendiri dan banyak orang. Tapi itu cuma bersifat dunia aja. 

Kenapa? Karena banyak perintah agama yang terabaikan dengan adanya ajang-ajang ini.
Percuma dong, kalo susah-susah berusaha tapi yang diusahain cuma bersifat dunia. Udah gitu, yang bersifat akhirat belum tentu didapetin. Padahal kalo kita ngejar akhirat, dunia pasti juga bakalan kegenggam. So, nggak masalah kok buat ninggalin semua kriteria penilaian menjadi perempuan yang seperti ajang ini atau ajang itu. Karena semua itu cuma penilaian juri di ajang lomba aja. Jurinya manusia, dan yang nggak taat syariat. Bahaya!

Padahal kan, prestasi terbaik bukan dinilai dari ajang apa yang diikutin. Tapi sebaik apa atau seberapa besar ketakwaan kita terhadap Allah subhanahu wa taala.


Hadiah yang lebih ‘WAH’!
Sobat gaulislam, ajang lomba semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya mungkin keliatan menguntungkan. Tapi, bisa jadi itu malah ngejauhin baik Bro yang insyaallah muslim sejati ataupun Sis yang insyaallah muslimah sejati dari mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Apalagi dalam hal ngejaga kehormatan dan juga harga diri seorang muslimah.

So, daripada terjerumus semakin dalam, yuk kita mulai beralih ke kriteria penilaian menjadi seorang muslimah yang benar, baik dan sejati. Yang bakal nilai bukan manusia, loh, tapi langsung Allah Ta’ala yang menilai!
Dan hadiah yang didapet bakal berjuta kali lebih banyak dan lebih ‘WAH’ dari hadiah yang didapet di ajang perlombaan.
Surga, loh, surga! [Zadia “willyaaziza” Mardha]
source: gaulislam.com
Jawaban Raja Arab Saudi tentang Palestina Ini Membuat Presiden Perancis Speechless

Jawaban Raja Arab Saudi tentang Palestina Ini Membuat Presiden Perancis Speechless



Islamedia – Pada masa kepemimpinan Raja Faisal Bin Abdul Aziz, Arab Saudi merupakan negara yang sangat keras menentang penjajahan Zionis Israel atas bangsa Palestina. Dalam berbagai kesempatan di forum-forum Internasional, Raja Faisal secara Istiqomah memperjuangkan hak-hak warga Palestina.
Berikut ini salah satu dialog antara Raja Faisal Bin Abdul Aziz dengan Presiden Perancis Charles de Gaulle tentang Palestina. Dalam dialog ini Raja Faisal dengan sangat tegas menyatakan pembelaan terhadap Palestina dan gaya bahasanya yang sangat lugas membuat Presiden Charles kehilangan kata-kata (speechless).
Presiden Charles : “Kami dengar Tuan Raja ingin sekali menendang Israel ke laut, sementara keberadaan Israel ini sudah menjadi sebuah realita yang harus diterima, dan tidak seorangpun di dunia ini boleh menolak keberadaannya“.
Raja Faisal Menjawab : “Saya benar-benar heran dengan pernyatanmu itu tuan Presiden. Hitler pernah menduduki Paris, dan pendudukan itu sudah menjadi realita yang harus diterima. waktu itu seluruh Prancis sudah menyerah kalah dan bertekuk lutut. Tapi waktu itu anda tidak menyerah dan terus berjuang melawan apa yang tadi anda sebut sebagai sebuah realita yang harusnya anda terima begitu saja, sampai akhirnya anda sukses. Baik anda maupun bangsa anda tidak pernah mau menerima sebuah realita yang sudah terjadi. Makanya saya sangat heran ketika anda meminta saya untuk menyerah begitu saja menerima realita israel ini. Anda sudah pernah merasakan bagaimana bangsa lemah dijajah oleh bangsa kuat, wahai Tuan Presiden“.
Kagum dan kaget mendapatkan jawaban super telak tersebut, Presiden Charles de Gaulle menurunkan intonasi bicaranya: “tetapi wahai tuan raja, orang-orang yahudi mengatakan bahwa Palestina adalah tanah leluhur asli mereka, dan nenek moyang senior mereka dilahirkan disana“.
Raja Faisal menjawab, “Tuan Presiden, saya masih belum bisa memahami anda, bukankah anda orang yang taat beragama dan mengimani kitab suci anda. Tentunya anda senantiasa membaca kitab suci anda. Anda tentunya pernah membaca bahwa yahudi datang dari Mesir lalu mereka menyerang Palestina, membakar kota-kota, membunuh anak-anak dan wanita, lalu menaklukkan Palestina. Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka? Palestina adalah tanah asli suku Arab Kan’an, dan yahudi adalah penjajah. Itu yang tertulis dalam alkitab anda. Dan anda ingin mengembalikan penjajahan yan pernah diwujudkan Yahudi pada 4000 tahu yang lalu, tapi kenapa anda tidak ingin mengembalikan penjajahan Roma terhadap Prancis yang baru saja terjadi pada 3000 tahun yang lalu? Apakah kita harus menata ulang peta dunia demi kepentingan yahudi, tetapi kita tidak mau menata ulang peta dunia untuk kepentingan Roma? Anda juga tentunya belum lupa, kalau kami Muslim Arab pernah menduduki Selatan Prancis selama 200 tahun, sementara yahudi kuno menduduki Palestina cuma 70 tahun doang lalu kembali terusir kelaur Palestina“.
tapi yahudi mengklaim bahwa nenek moyang mereka terlahir disana!“, balas Presiden Charles.
Anda ini benar-benar aneh. sekarang di paris ada 150 kedutaan asing. Mayoritas Dubes-Dubes dan para Diplomat sempat melahirkan anak-anaknya di Paris. Kalau suatu saat anak-anak kelahiran Paris itu datang ke Prancis dan menuntut anda untuk meninggalkan negeri ini untuk diduduki oleh mereka yang pernah terlahir di Paris, maka akan seperti apa nasib Paris? Paris akan menjadi milik siapa?“.
Presiden Charles terdiam! Lalu dengan suara yang berat, Presiden Charles berkata, “ok, sekarang baru saya mengerti permasalahan Palestina yang sesungguhnya“. Selanjutnya Prancis menyetop senjata yang dipasok ke Israel yang saat itu dipasok oleh Prancis.
dikutip dari shasha.ps dan dialihbahasakan oleh Ustadz Syafruddin.
[islamedia/mh]

Pernah Hutang Riba 2,1 Miliyar, Inilah 8 Langkah Cara Melunasinya

Inilah 8 Langkah untuk Bebas dari Jeratan Utang dan Riba
Islamedia – Pengusaha sukses asal Yogyakarta bernama Saptuari Sugiharto membagikan pengalaman pribadinya agar terbebas dari jeratan hutang dan riba.
Alumni UGM yang memiliki 60 cabang dari usaha Kedai Digital ini pernah mengalami hidup dalam jeratan riba, bahkan jumlah hutangnya pernah mencapai angka Rp. 2,1 Miliyar. Hingga kemudian Allah memberikan teguran-teguran dan menyadarkanya.
Ada 8 langkah yang pernah dilakukan Saptuari agar terbebas dari Utang dan Riba.
1. Bertaubat
2. Berazzam, bercita-cita sampai mentok
3. Perbaikan Ibadah Total
4. Berani melepas aset : amputasi, rawat inap atau rawat jalan
5. Menaikan pendapatan
6. Tunda semua kesenangan
7. Banyak berdoa
8. Bersedekah dalam kondisi lapang dan sempit
Untuk lebih lengkapnya, dapat menonton langsung penjelasan Saptuari dalam video berikut ini.

HUKUM MENGGUGAT CERAI

HUKUM MENGGUGAT CERAI

Image result for hukum perceraian
Perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci oleh Allah. Perceraian dipilih ketika dibutuhkan saja, yaitu apabila mempertahankan pernikahan akan mengakibatkan mudharat yang lebih besar. Dan jika tidak sangat diperlukan maka perceraian menjadi makruh karena mengakibatkan bahaya yang tidak bisa ditutupi.
Bagi wanita, meminta cerai adalah perbuatan sangat buruk. Dan Islam melarangnya dengan menyertakan ancaman bagi pelakunya, jika tanpa adanya alasan yang dibenarkan.
الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْزَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاّض أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, MAKA TIDAK ADA DOSA ATAS KEDUANYA TENTANG BAYARAN YANG DIBERIKAN OLEH ISTRI UNTUK MENEBUS DIRINYA. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah 2:229)
Syariat Islam memberikan jalan keluar bagi pasangan suami istri ketika mereka tidak lagi merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarganya. Baik dalam bentuk cerai yang itu berada di tangan suami atau gugat cerai (khulu’) sebagai jalan keluar bagi istri yang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal bersama suami. Dan semuanya harus dilakukan dengan aturan yang telah ditetapkan syariat.
HUKUM ISTRI MENGGUGAT CERAI SUAMI (KHULU’)
Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan hal ini, diantaranya,
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ
“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 2226, At-Turmudzi 1187).
Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang diizinkan oleh syariat.
Dalam Aunul Ma’bud, Syarh sunan Abu Daud dijelaskan makna ‘tanpa kondisi mendesak’,
أي لغير شدة تلجئها إلى سؤال المفارقة
“Yaitu tanpa ada kondisi mendesak memaksanya untuk meminta cerai…” (Aunul Ma’bud, 6:220)
Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُنْتَزِعَاتُ وَالْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ
Para wanita yang berusaha melepaskan dirinya dari suaminya, yang suka khulu’ (gugat cerai) dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq.” (HR. Nasa’i 3461)
Al-Munawi menjelaskan hadis di atas,
أي اللاتي يبذلن العوض على فراق الزوج بلا عذر شرعي
“Yaitu para wanita yang mengeluarkan biaya untuk berpisah dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’
Beliau juga menjelaskan makna munafiq dalam hadis ini,
نفاقاً عملياً والمراد الزجر والتهويل فيكره للمرأة طلب الطلاق بلا عذر شرعي
‘Munafiq amali (munafiq kecil). Maksudnya adalah sebagai larangan keras dan ancaman. Karena itu, sangat dibenci bagi wanita meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’ (At-Taisiir bi Syarh al-Jaami’ as-Shogiir, 1:607).
HAL-HAL YANG MEMBOLEHKAN GUGAT CERAI SUAMI
Hadits-hadits di atas tidaklah memaksa wanita untuk tetap bertahan dengan suaminya sekalipun dalam keadaan tertindas. Karena yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan gugat cerai tanpa alasan yang dibenarkan. Artinya, jika itu dilakukan karena alasan yang benar, syariat tidak melarangnya, bahkan dalam kondisi tertentu, seorang wanita wajib berpisah dari suaminya.
Apa saja yang membolehkan para istri untuk melakukan gugat cerai? Imam Ibnu Qudamah telah menyebutkan kaidah dalam hal ini. Beliau mengatakan,
وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها  منه
“Kesimpulan masalah ini, bahwa seorang wanita, jika membenci suaminya karena akhlaknya atau karena fisiknya atau karena agamanya, atau karena usianya yang sudah tua, atau karena dia lemah, atau alasan yang semisalnya, sementara dia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami, maka boleh baginya untuk meminta khulu’ (gugat cerai) kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk melepaskan dirinya.” (al-Mughni, 7:323).
Berikut beberapa kasus yang membolehkan sang istri melakukan gugat cerai,
  1. Jika sang suami sangat nampak membenci sang istri, akan tetapi sang suami sengaja tidak ingin menceraikan sang istri agar sang istri menjadi seperti wanita yang tergantung.
  2. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.
  3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar musik, dll
  4. Jika sang suami tidak menunaikan hak utama sang istri, seperti tidak memberikan nafkah kepadanya, atau tidak membelikan pakaian untuknya, dan kebutuhan-kebutuhan primer yang lainnya, padahal sang suami mampu.
  5. Jika sang suami ternyata tidak bisa menggauli istrinya dengan baik, misalnya jika sang suami cacat, atau tidak bisa melakukan hubungan biologis, atau tidak adil dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau atau jarang memenuhi kebutuhan biologisnya karena condong kepada istri yang lain.
  6. Jika sang wanita sama sekali tidak membenci sang suami, hanya saja sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik. Maka boleh baginya meminta agar suaminya meridoinya untuk khulu’, karena ia khawatir terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menunaikan hak-hak suami.
  7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau buruknya suami.
GUGAT CERAI OLEH ISTRI
Yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri kepada suami. Cerai model ini dilakukan dengan cara mengajukan permintaan perceraian kepada Pengadilan Agama. Dan perceraian tidak dapat terjadi sebelum Pengadilan Agama memutuskan secara resmi.
Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu’:
1. FASAKH
Fasakh adalah pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana:
Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
  1. Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
  2. Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atau
  3. Adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.
Jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya.
2. KHULU’
Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Khulu’ disebut dalam QS Al-Baqarah 2:229.
Adapun dalil haditsnya adalah sebuah hadits shahih yang mengisahkan tentang istri Tsabit bin Qais bin Syammas bernama Jamilah binti Ubay bin Salil yang datang pada Rasulullah dan meminta cerai karena tidak mencintai suaminya. Rasulullah lalu menceraikan dia dengan suaminya setelah sang istri mengembalikan mahar.
[Hadits riwayat Bukhari no. 4973; riwayat Baihaqi  dalam Sunan al-Kubro no. 15237; Abu Naim dalam Al-Mustakhroj no. 5275;  Teks asal dari Sahih Bukhari sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا
DEFINISI KHULU’
Definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i adalah sebagai berikut:
الخلع شرعا هو اللفظ الدال على الفراق بين الزوجين بعوض متوفرة فيه الشروط الآتي بيانها في شروط العوض فكل لفظ يدل على الطلاق صريحا كان أو كناية يكون خلعا يقع به الطلاق البائن وسيأتي بيان ألفاظ الطلاق في الصيغة وشروطها
(Khulu’ secara syariah adalah kata yang menunjukkan atas putusnya hubungan perkawinan antara suami istri dengan tebusan [dari istri] yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Setiap kata yang menunjukkan pada talak, baik sharih atau kinayah, maka sah khulu-nya dan terjadi talak ba’in.) [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/185 mengutip definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i].
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mendefinisikan khuluk demikian:
الخلع هو أن تفتدي المرأة نفسها بمال تدفعه لزوجها، أو هو فراق الزوجة على مال
(Khuluk adalah istri yang menebus dirinya sendiri dengan harta yang diberikan pada suami atau pisahnya istri dengan membayar sejumlah harta). [Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, IX/490; Mu’jam Al-Mustalahat al-Fiqhiyah, II/46 – 48)].
HUKUM KHULU’
Adapun hukum asal dari gugat cerai adalah boleh. Imam Nawawi menyatakan:
وأصل الخلع مجمع على جوازه ، وسواء في جوازه خالع على الصداق أو بعضه ، أو مال آخر أقل من الصداق ، أو أكثر ، ويصح في حالتي الشقاق والوفاق ،
(Hukum asal dari khulu’ adalah boleh menurut ijmak ulama. Baik tebusannya berupa seluruh mahar atau sebagian mahar atau harta lain yang lebih sedikit atau lebih banyak. Khulu’ sah dalam keadaan konflik atau damai.) [ Abu Syaraf An-Nawawi dalam Raudah at-Talibin 7/374;  Al-Hashni dalam Kifayatul Akhyar, III/40].
Al-Jaziri membagi hukum khuluk menjadi boleh, wajib, haram, dan makruh:
الخلع نوع من الطلاق لأن الطلاق تارة يكون بدون عوض وتارة يكون بعوض والثاني هو الخلع وقد عرفت أن الطلاق يوصف بالجواز عند الحاجة التي تقضي الفرقة بين الزوجين وقد يوصف بالوجوب عند عجز الرجل عن الإنفاق والاتيان وقد يوصف بالتحريم إذا ترتب عليه ظلم المرأة والأولاد وقد يوصف بغير ذلك من الأحكام المتقدم ذكرها هناك على أن الأصل فيه المنع وهو الكراهة عند بعضهم والحرمة عند بعضهم ما لم تفض الضرورة إلى الفراق
(Khuluk itu setipe dengan talak. Karena, talak itu terkadang tanpa tebusan dan terkadang dengan tebusan. Yang kedua disebut khuluk. Seperti diketahui bahwa talak itu boleh apabila diperlukan. Terkadang wajib apabila suami tidak mampu memberi nafkah. Bisa juga haram apabila menimbulkan kezaliman pada istri dan anak. Hukum asal adalah makruh menurut sebagian ulama dan haram menurut sebagian yang lain selagi tidak ada kedaruratan untuk melakukannya). [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/186].
As-Syairazi dalam Al-Muhadzab menyatakan bahwa khuluk itu boleh secara mutlak walaupun tanpa sebab asalkan kedua suami istri sama-sama rela.  Apalagi kalau karena ada sebab, baik sebab yang manusiawi seperti istri sudah tidak lagi mencintai suami; atau sebab yang syar’i seperti suami tidak shalat atau tidak memberi nafkah.
إذا كرهت المرأة زوجها لقبح منظر أو سوء عشرة وخافت أن لا تؤدي حقه جاز أن تخالعه على عوض لقوله عز و جل { فإن خفتم أن لا يقيما حدود الله فلا جناح عليهما فيما افتدت به } [ البقرة : 229 ] وروي أن جميلة بنت سهل كانت تحث ثابت بن قيس بن الشماس وكان يضربها فأتت إلى النبي ( ص ) وقالت : لا أنا ولا ثابت وما أعطاني فقال رسول الله ( ص ) [ خذ منها فأخذ منها فقعدت في بيتها ] وإن لم تكره منه شيئا وتراضيا على الخلع من غير سبب جاز لقوله عز و جل { فإن طبن لكم عن شيء منه نفسا فكلوه هنيئا مريئا } [ النساء : 4 ]
(Apabila istri tidak menyukai suaminya karena buruk fisik atau perilakunya dan dia kuatir tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, maka boleh mengajukan gugat cerai dengan tebusan karena adanya firman Allah dalam QS Al Baqaran 2:229 dan hadits Nabi dalam kisab Jamilah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais. … Apabila istri tidak membenci suami akan tetapi keduanya sepakat untuk khuluk tanpa sebab maka itupun dibolehkan karena adanya firman Allah dalam QS An Nisa 4:4). [As-Syairozi, Al-Muhadzab,  II/289].
KHULU’ DI LUAR PENGADILAN
Khuluk, sebagaimana halnya talak, dapat dilakukan secara langsung antara suami istri tanpa melibatkan hakim dan pengadilan agama. Seperti dikatakan Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab:
ويجوز الخلع من غير حاكم لأنه قطع عقد بالتراضي جعل لدفع الضرر، فلم يفتقر إلى الحاكم كالإقالة في البيع.
(Khuluk dapat dilakukan tanpa hakim karena khuluk merupakan pemutusan akad dengan saling sukarela yang bertujuan untuk menolak kemudaratan. Oleh karena itu ia tidak membutuhkan adanya hakim sebaagaimana iqalah dalam transaksi jual beli). [Imam Nawawi, Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab, XVII/13].
Walaupun khuluk dapat dilakukan di luar pengadilan, namun secara formal itu tidak diakui negara. Untuk mengesahkannya secara legal formal menurut undang-undang Indonesia, maka pihak yang berperkara tetap harus mengajukannya ke Pengadilan Agama.[KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 114]
Harus juga diingat, bahwa proses perceraian di Pengadilan Agama dapat dilakukan apabila memenuhi sejumlah persyaratan yang ditentukan. Seperti, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), suami tidak memberi nafkah, ditinggal suami selama 2 tahun berturut-turut, dan lain-lain. [KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 116].
KHULU’ DI PENGADILAN AGAMA
Suatu gugatan perceraian akan diakui negara dan akan memiliki kekuatan legal formal apabila dilakukan di Pengadilan Agama dan diputuskan oleh seorang Hakim. [Pasal 1 Bab I Ketentuan Umum PP No 9/1975 tentang Pelaksanaan UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan]
Untuk mengajukan gugatan cerai atau khulu’, seorang istri atau wakilnya dapat mendatangi Pengadilan Agama (PA) di wilayah tempat tinggalnya. Bagi yang tinggal di Luar Negeri, gugatan diajukan di PA wilayah tempat tinggal suami. Bila istri dan suami sama-sama tinggal di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat keduanya menikah dulu, atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat. [Pasal 73 UU No 7/89 tentang Peradilan Agama].
Berbeda dengan khuluk yang dilakukan di luar Pengadilan, maka gugat cerai yang diajukan melalui lembaga pengadilan harus memenuhi syarat-syarat antara lain:
  1. Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya;
  2. suami meninggalkan anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada ijin atau alasan yang jelas dan benar, artinya: suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan anda;
  3. suami dihukum penjara selama (lima) 5 tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan;
  4. suami bertindak kejam dan suka menganiaya anda;
  5. suami tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya;
  6. terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus tanpa kemungkinan untuk rukun kembali;
  7. suami melanggar taklik-talak yang dia ucapkan saat ijab-kabul;
  8. suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidaakharmonisan dalam keluarga. []Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975.
Syarat-syarat di atas tentu saja harus disertai dengan adanya saksi dan bukti-bukti yang menguatkan gugatan.
GUGAT CERAI TANPA KERELAAN SUAMI
Gugat cerai pada dasarnya harus dilakukan atas sepengetahuan dan kerelaan suami. Karena pihak yang memberi kata cerai dalam khuluk adalah suami. Jadi, kalau suami tidak rela atau tidak mau meluluskan gugatan perceraian istri, maka khuluk tidak bisa terjadi.
Namun demikian, dalam situasi tertentu Hakim di Pengadilan Agama dapat meluluskan gugat cerai tanpa persetujuan atau bahkan tanpa kehadiran suami apabila berdasarkan pertimbangan tertentu Hakim menganggap bahwa perceraian itu lebih baik bagi pihak penggugat yaitu istri. Misalnya, karena terjadinya konflik yang tidak bisa didamaikan, atau suami tidak bertenggung jawab, terjadi KDRT yang membahayakan istri dan lain sebagainya. [Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, II/290].
Dalam konteks ini, maka hakim dapat menceraikan keduanya bukan dalam akad khuluk tapi talak biasa. Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah dinyatakan:
وبضرر زوج لزوجته – نحو: لم نزل نسمع عن الثقات وغيرهم أنه يضارها فيطلقها عليه الحاكم
(Disebabkan perilaku suami yang membahayakan istri, misalnya ada berita dari sejumlah sumber terpercaya bahwa suami melakukan kekerasan pada istri, maka hakim dapat menceraikan keduanya.). [Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, XII/285].
Apabila suami tidak memiliki kesalahan signifikan pada istri, hanya istri kurang menyukai suami dan kuatir tidak dapat memenuhi hak-hak suami dan kewajibannya sebagai istri, maka istri dapat mengajukan khuluk dan sunnah bagi suami untuk meluluskannya.  Apabila suami tidak rela dan tidak mau, maka ada dua pendapat ulama. Pendapat pertama, hakim tidak boleh memaksa suami. Konsekuensinya, hakim tidak dapat menceraikan mereka. Ini pandangan mayoritas ulama, termasuk madzhab Syafi’i.
Pendapat kedua, hakim boleh memaksakan kehendak istri untuk bercerai walaupun suami tidak rela.  Pandangan ini terutama berasal dari madzhab Hanbali.  Al-Mardawi dalam Al-Inshaf: menyatakan:
وإذا كانت المرأة مبغضة للرجل وتخشى أن لا تقيم حدود الله في حقه فلا بأس أن تفتدي نفسها منه، فيباح للزوجة ذلك والحالة هذه على الصحيح من المذهب وعليه أكثر الأصحاب وجزم الحلواني بالاستحباب، وأما الزوج فالصحيح من المذهب أنه يستحب له الإجابة إليه وعليه الأصحاب. واختلف كلام الشيخ تقي الدين رحمه الله في وجوب الإجابة إليه. وألزم به بعض حكام الشام المقادسة الفضلاء
(Apabila istri marah pada suami dan takut tidak dapat menjalankan perintah Allah dalam memenuhi hak-hak suami maka istri boleh melakukan gugat cerai. … Al-Halwani menyatakan gugat cerai dalam konteks ini sunnah. Adapun suami maka menurut pendapat yang sahih adalah sunnah mengabulkan permintaan istri. Syekh Taqiuddin dan sebagian hakim Suriah menyatakan bahwa suami wajib memenuhi permintaan istri.) [Al-Mardawi, Al-Inshaf, VIII/382].
KESIMPULAN
Khuluk atau gugat cerai dari seorang istri pada suami hukumnya boleh dan sah dilakukan kapan saja baik dalam damai atau karena konflik rumah tangga. Karena faktor kesalahan suami atau karena istri tidak lagi mencintai suami. Dengan syarat adanya kerelaan suami. Dan dapat dilakukan di depan pengadilan atau di luar pengadilan.
Gugat cerai di Pengadilan Agama yang disebabkan oleh perilaku suami yang tidak bertanggungjawab dapat diluluskan oleh hakim dengan sistem talak (bukan khuluk) tanpa perlu persetujuan suami.
Adapun gugat cerai yang murni karena istri tak lagi mencintai suami, bukan karena kesalahan suami, maka suami disunnahkan untuk menerima permintaan istri. Dalam konteks ini, maka ulama berbeda pendapat ada yang MEMBOLEHKAN dan ada yang MELARANG. Wallahu a’lam bis-Shawab dan semoga bermanfa’at. Aamiin
Ketika Aib Dikomersilkan

Ketika Aib Dikomersilkan

Ketika Aib Dikomersilkan
Majalahdrise.com – Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi Musa. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami”.Maka berangkatlah Musa AS bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..” Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau.

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Illaahi … asqinaa….”Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…” Maka Musa pun berteriak di tengahtengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri. Maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia. Saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.” Maka hatinya pun gundah gulana. Air matanya pun menetes, menyesali perbuatan maksiatnya. sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun,selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan.

semakin lama semakin tebal menghitam dan akhirnya turunlah hujan. Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.” Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.” Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

………………

Driser, saat ini banyak tayangan entah itu reality show atau tayangan off air yang isinya justru mengungkap aib sendiri. Anehnya yang ngungkap aib sendiri malah nyantai aja. Aib kok dikomersilkan ya? Dalam kondisi sekarang, emang apa aja bisa jadi jualan tak terkecuali aib. Malah aib ini menjelma jadi berita yang punya daya ungkit tinggi buat naikin rating.

Jika Driser ngeliat satu reality show yang membuat naluri kepo penontonnya beringasan, saat itu justru yang punya program makin seneng. Gimana gak? Kepo penonton tuh modal terbesar buat ngembangin program. Anehnya juga, penonton malah keenakan kepoin aib orang. Coba Driser lihat, gimana jika aib malah jadi konsumsi media? Kasus rumah tangga seorang artis malah bisa menjadi salah satu ‘trending topic’, yang gak jelas sampai kapan akhirnya. Fitnah atau fakta sebenarnya gak penting, yang penting adalah gimana penonton bisa betah diajakin ngebahas aib orang.

Hm…sepertinya kita patut was-was dengan acara-acara kayak gini. Masyarakat kehilangan ukuran kebahagiaan hakikinya sehingga menjadikan materi sebagai satu-satunya nilai yang harus diperjuangkan. Jika aib bisa menghasilkan duit, sah-sah aja dijadiin bahan komersil. Aib sendiri yang harusnya di tutup, malah dengan bangga dikomersilkan. Driser, masalah ngungkapin aib ini udah dijelaskan dalam banyak dalil. Dalam satu Hadist Rasulullah bersabda :“Seluruh Ummatku akan diampuni dosa – dosanya kecuali orang – orang yang terang – terangan (berbuat dosa).

Di antara orang – orang yang terang – terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia berkata, “Wahai Fulan semalam aku berbuat ini dan itu.” Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yang telah ditutupi Allah” (Muttafaq’alaih HR: Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya nih, Membuka aib sendiri gak boleh apalagi membuka aib orang lain. Tengok deh kisah jaman Nabi Musa di atas, Allaah telah menutupi aib hambaNya, maka janganlah mengumbarnya sendiri ke khalayak. Dan kalian, Gak usah kepo deh dengan aib orang apalagi terpancing dengan orang yang ngungkapin aibnya sendiri. Nggak penting dan buang waktu! Mending kepoin kondisi umat Islam dan aktif dakwah. Itu baru ajib, bukan aib. [Juanmartin]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53